Senin, 18 September 2017

Kembang Api Kertas

Hihihi, tapi percobaan kali ini tidak keluar apinya, ya. Hanya kertas-kertas keci berhamburan seperti kembang api yang menyebar di udara, lantas hilang entah kemana. Kalau kertasnya ini mah jatuh ke bawah semua. Namun, seru sekali percobaan ini.

1.       Siapkan 1 buah balon, gunting bagian ujung yang biasa untuk ditiup kira-kira 3 cm. Biarkan anak mengguntingnya.
2.       Masukkan balon tersebut melingkupi botol air mineral yang sudah digunting atas dan bawahnya, hingga kira-kira hasil jadiny 8 cm tingginya. Setelah balon melingkupi, kasih perekat agar balon tidak lepas.
3.       Gunting kertas menjadi kecil-kecil (kayak bikin kolase gitu guntingnya) sebanyak mungkin yang sekiranya cukup masuk ke dalam kantong balon.
kertas kecil-kecil sudah dimasukkan dalam balon yang melingkupi bagian bawah botol yang bolong
4.       Masukkan guntingan kertas itu ke dalam balon, lalu tarik bagian bawah balon ke arah bawah sekuat mungkin.
ditarik balonnya siap untuk dilepaskan

5.       Lalu, lepaskan!
Maka guntingan kertas kecil-kecil tadi akan menyembur keluar dari balon. Seru! Qowiyy sampai berulang kali mencobanya, sambil ketawa renyah.

kertas berhamburan keluar

bagian bawah balon yang ditarik, terdorong masuk ke dalam botol

“Kok bisa keluar semua kertas kecilnya, Mas?”
“Ya kan habis ditarik, trus kedorong!”
Ya, sependapat deh sama saya. Nggak tahu secara fisika bagaimana menjelaskannya. Hihihi, maafkan, Nak! Ntar Bunda tanya sama ahlinya ya. Wkwkwk..

Lalu selesai percobaan saya merenung, kira-kira hal tersebut bisa dikaitkan dengan apa, ya? Mengendap 2 hari, saya membaca tafsir Ibnu Katsir tentang QS Al Insyiqoq yang Qowiyy sudah menghafalnya. Aha! Ketemu...

Siang itu ketika akan tidur siang, saya membuat cerita tentang “Kembang Api Kertas” ala Upin dan Ipin. Ya, pemerannya mereka berdua dan teman-temannya. Qowiyy antusias mendengarnya. InshaaAllah cerita ini akan jadi cernak yang nanti akan saya kirim ke media. Doakan ya, bisa tembus. Hihihi...

Lalu, mumpung Qowiyy masih melek (ini anak memang kalau ditungguin malah nggak bisa tidur), saya melafadzkan salah satu ayat di QS Al Insyiqoq.


 
Surat Al-Insyiqaq Ayat 4
"dan dimuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong"
 

Tak lupa saya berdiskusi dengan Qowiyy soal percobaan kembang api kertas yang 2 hari sebelumnya dia lakukan.
“Mas, ketika balon kamu tarik terus dilepaskan, kertasnya kemana?”
“Keluar semua, Bun, sampai habis.”
“Berarti di dalam balon gimana?”
“Kosonglah!”
“Kertasnya keluar dari balon gimana?”
“Yang naik ke atas trus jatuh lagi.”
“Ntar pas kiamat semua isi bumi juga dimuntahkan lho, Mas! Manusia yang telah dikubur, dsb.”
“Buminya terus kosong ya, Bun?”
Saya mengangguk. Saya menanyakan bagaimana kondisi Qowiyy jika sedang muntah. Apakah perutnya kosong? Iya mengangguk.
“Terus manusia keluar, diangkat ke atas, trus jatuh lagi ya?” tanya Qowiyy.
“Nggak tahu, Mas.Yang jelas, saat itu manusia bingung, takut, mikirin dirinya sendiri.”
Qowiyy terdiam lama. “Ngeri ah, Bun!”
Saya pun ikut tak bersuara. “Sungguh, Bunda juga merasa ngeri, Nak!”


Ya Allah, moga Kau tuntun kengerian kami ini untuk senantiasa bersemangat beramal sholih sebagai bekal kami nanti.

Manusia Seperti Bola



Pagi setengah siang itu, hihihi, lupa kapan tepatnya, saya meminta Nasywah untuk menggelindingkan 2 buah bola bergantian. Terserah warna yang mana dulu (2 bola berwarna berbeda). Satu bola lagi saya yang menggelindingkannya.

“Ayo gelindingkan bola 1!”

Nasywah melakukan dengan baik. Lalu saya minta dia menggelindingkan bola yang kedua. Sebelum dia menggelindingkannya, saya bertanya,”Kira-kira berhentinya ntar bolanya lebih jauh dari bola pertama atau tidak?”
“Ehm, lebih jauh. Eh, nggak!” Nasywah tampak ragu. Saya menanyakan kembali.
“Ya nggak tahu, tergantung aku gelindingkannya.”

Lalu ternyata bola menggelinding dan berhenti lebih jauh. Bagaimana dengan bola ketiga? Apakah berhentinya di tempat yang sama dengan bola sebelumnya, atau bagaimana?
Kali ini saya yang menggelindingkan. Ternyata bola berhenti tidak melewati bola pertama dan kedua. Alias jarak berhentinya lebih dekat dengan saya.

“Apakah tempat berhentinya sama di antara ketiga bola itu?”
“Nggak sama!”
“Kenapa bola berhenti menggelinding?”
“Ya memang dah nggak bisa gelinding.”
“Kalau dah berhenti menggeinding, berarti nggak bisa gerak lagi ya?”
Nasywah mengangguk.
“Berarti kapan manusia tidak bisa bergerak lagi?”
“Pas sudah meninggal!”
“Bisa tahu tidak kapan meninggalnya?”
Nasywah bingung. Lantas saya bertanya,”Memang tadi kita tahu kapan bola akan berhenti menggelinding?”
“Nggak tahu!”
“Seperti itulah manusia. Tidak tahu kapan akan berhenti hidupnya.”

Ide ini entah tercetus selintas. Pasalnya memang beberapa hari sebelumnya anak-anak mengajak saya berdiskusi tentang hal yang gaib, mulai dari jodoh, rizki, dan kematian. Gara-gara mereka sering dengerin Hafiz doll, trus mengajak diskusi tentang gaib ini. Mengalami titik buntu, gegara terlontar dari mulut mereka,”Kalau gitu suruh aja orang itu mati sekarang!” Weleh, mana bisa to, Nak, kalau memang belum ajalnya. Tapi mereka ngeyel.

Dari percobaan bola tadi, he, paling tidak akhirnya Nasywah paham,bahwa hidup mati manusia ada Allah yang mengaturnya, yang menggenggamnya.
Selanjutnya, sungguh, Nak, berharap engkau bisa mengerti bagaimana harus mengisi hidup ini!

BERGERAK! Tentu yang bergerak yang mengantarkan diri menuju rahmat dan surga Nya.

Rabu, 30 Agustus 2017

Food Combining untuk Ibu Hamil

 “Nggak takut kurang gizi, Mbak, kok nasinya dikit banget makannya? Kasihan bayi di perutnya!”

He, pertanyaan seperti itu pernah terdengar oleh telinga saya ketika hamil anak ketiga. Kebetulan kehamilan saat itu selama 9 bulan saya menerapkan food combining dalam pola makan saya. Alasannya sederhana kala itu. Saya ingin sehat, lebih produktif meski dalam keadaan hamil. Ada alasan lain lagi sih. Karena ibu hamil tidak bisa bekam, sedang saya punya kebiasaan gampang pegel-pegel dan susah buang air besar (meski sudah makan sayur dan buah). Hihihi...Kan kalau bekam, bisa banget meredakan penat-penat tubuh.

Food combining pun dimulai. Awalnya memang “wow”. Agak pusing, terutama kalau pagi. Namun, lama-lama jadi terbiasa. Bicara tentang nutrisi, menggunakan pola makan food combining selama hamil, oke-oke saja kok.

Asam Folat dan Protein

Ketika tri semester pertama, ibu hamil memang diminta memperbanyak asupan makanan yang mengandung asam folat. Ya, sarapannya buah yang mengandung itu, seperti alpukat, jeruk, terakhir jelang makan siang, makan pisang. Dan faktanya, kata Bu Bidan yang menangani kehamilan saya, makan pisang sehari 2 sisir mampu menghindari kram-kram selama hamil. 


Alpukat, sumber asam folat


Pisang, mencegah kram ketika hamil

Dari mana lagi sumber asam folat. Sayuran hijau seperti bayam, brokoli bagus lho untuk mendukung asupan ini. Makan sayur siang hari dan malam hari, dilengkapi dengan lauk tahu tempe, plus nasi. Tahu tempenya mengandung protein, kan? Dan zat gizi ini sangat dibutuhkan ibu hamil dengan 2x cesar sebelumnya seperti saya ini, untuk memperkuat rahim. Pun agar bekas sayatan sc tidak terasa sakit ketika perut mulai membesar.

Salah satu menu food combining jika ada asupan karbo

Oh ya, sehari itu saya juga disarankan makan telur ayam kampung rebus 3 buah lho. Namun, karena harganya lumayan mahal, ha ha ha, saya ada kalanya sehari makan 1-2 butir saja. He, dibuat cemilan saja, ketika pukul 13.30 an dan 15.30 an. Tentu saja, kandungan protein yang ada dalam telur ini juga sangat tinggi.

Telur ayam kampung penuhi kebutuhan protein ibu hamil

Dan betul, kok! Pagi sarapan buah, siang dan malam makan nasi lengkap dengan lauk tahu tempe dan sayur, membuat badan lebih fit. Apakah saya tak makan daging? He, makanlah! Namun, ketika makan ini tak pakai nasi. Cukup digado sama sayuran. Seringnya sih saya ngabisin penyetan yang dibeli suami. Suami makan nasi, sambel, dan tahu/tempenya, nah ayam sama lalapannya saya yang makan.

Salah satu menu food combining tanpa asupan karbo

Dan yang terpenting bagi ibu hamil itu adalah minum yang cukup. Sehari saya bisa sampai 3 liter lho. Air putih penting agar tubuh tidak dehidrasi. Ibu hamil itu gerahan, apalagi kalau sudah masuk tri semester ketiga. Keringatan terus. Apalagi saya saat itu juga menjalankan program yoga prenatal minimal seminggu 3x. Wuih, bener-bener bisa keluar banyak peluh. Gobyosss, euyyy. Makanya asupan cairan khususnya dari air putih itu harus cukup. Apakah saya minum jenis minuman lainnya? Minum kok. Susu kambing kala mau tidur malam. Mungkin ini menyalahi konsep food combining yang membatasi minum susu dan produk turunannya. Namun, bagi saya, susu kambing memang bagus untuk ibu hamil. Sesekali saja, tak setiap hari. Mahal, euyyy.

Air putih penting untuk ibu hamil

Well, dengan pola food combining selama 9 bulan itu, suer, saya nggak pernah merasakan migrain lagi. Padahal sebelumnya, ehm, jangan ditanya, deh. Kalau sudah migrain bisa sampai 3 hari nggak hilang. Selama 9 bulan ini pula, buang air besar jadi lancar. Penyakit ibu hamil suka sembelit, biasanya begitu. Nah, pakai food combining, konstipasi nggak mampir, tuh!

Kabar gembiranya ketika menerapkan pola makan begini, saya hamil berat badan saya nambahnya nggak banyak, namun berat badan bayi nambah. Hanya nambah 7 kg saja dari berat awal sebelum hamil. Bahkan di kehamilan minggu ke 37 sd minggu 40, stagnan berat badan saya. Enteng saya bawa tubuh saya selama hamil. Kemana-mana bawa anak dua juga tak ada masalah. Ngurus daycare, ngajar, dan membersamai anak-anak jadi lebih ringan. Tidur juga lebih nyenyak. Nulis doang, yang saat itu terbengkalai. He, susah duduknya. Hihihi...

Pas lahiran, uhuiiii, bayi ketiga ini berat badannya paling montok dibanding kakak-kakaknya, lho. Juga terlihat lebih sehat.


Menerapkan food combining ketika hamil, mengapa tidak? 

Selasa, 29 Agustus 2017

Garis Bilangan

Ya ya ya, kalau ada yang nyletuk “garis bilangan” tentu pikiran langsung melayang kepada matematika. Betul, kok. Materi mengenal garis bilangan memang diajarkan di jenjang Sekolah Dasar. Dan pagi, 29 Agustus 2017, saya dan anak-anak belajar tentang hal ini pula.

Karena anak SD itu tahap berpikirnya masih operasional konkret, maka belajar garis bilangan kali ini memakai peraga berupa lego pipa yang bisa disambung-sambung. Saya pun menyediakan whiteboard untuk membawa konsep dari konkret ke semi abstrak, lalu ke abstrak.

Yuk ah dimulai! Awalnya anak-anak saya minta menyambung lego pipanya sampai mencapai panjang yang cukup. Kali ini Qowiyy menyambungnya berpola warnanya. Terserah aja sih ini. Tapi menurut saya jadi lebih mempermudah. Nasywah bertugas menggunting kertas menjadi kecil-kecil untuk kemudian ditulisi bilangan oleh Qowiyy.

Sama Panjang



“Mas, ambil penggaris! Lalu kamu ukur panjang 1 pipa yang kuning yang sudah tersambung itu! Berapa panjangnya?”
“4 cm.”
“Kalau yang biru, hijau, dan merah?”
“Sama juga 4 cm.”
Lalu saya menggambar garis bilangan di whiteboard, dan dari kegiatan itu Qowiyy paham bahwa dari titik satu ke titik lainnya jaraknya sama. Dan itulah ciri garis bilangan.



Urutan Bilangan

“Kalau 0 di sini,1 di sini, selanjutnya berapa Nasywah?”
“2.”
“5 di mana tempatnya? Kalau 11?” dst

Nasywah dan Qowiyy pun bisa meletakkannya pada garis bilangan (dari lego pipa). Ternyata hanya cukup sampai 12. Dari kegiatan ini, mereka mengerti bahwa garis bilangan itu bisa untuk mengetahui urutan bilangan.



Terus Berlanjut, Tapi Bisa Berhenti

“Itu kalau lego pipanya ditambahin lagi, bisa tidak?”
“Bisa!”
“Ditambahin sampai berapa banyak? Sebanyak ini bisa?”
“Bisa!”
“Kapan akan berhenti bisa ditambahin? Kalau lego pipanya habis, bisa nggak ditambah sambungannya?”
“Nggak bisa!”
“Hari ini kalian makan, besok bisa makan? Besoknya lagi? Besok, besoknya lagi?”
“Ya bisa lah.”
“Kapan akan berhenti makan dan nggak pernah bisa makan lagi?”
“Kalau sudah meninggal.”
“Jadi gimana dengan sholat dan ngaji?”
“Ya hari ini sholat ngaji, besok sholat ngaji,terus gitu tiap hari.”



Ah, lega rasanya. Berharap anak-anak bisa mengambil pelajaran inti ini. Sungguh, butuh kesabaran agar anak mau sholat dan ngaji dengan istiqomah (khususnya buat anak yang sudah 7 tahun). Harus sering-sering memasukkan nilai keimanan dan kecintaan kepada Allah. Hihihi, belajar garis bilangan ini juga karena sebelumnya Qowiyy waktunya tahsin pikirannya main di luar. He, kalau dituruti terus bisa nggak tahasin. Padahal pagi jadwalnya tahsin.

Bilangan Loncat

Nah, habis itu baru deh matematika beneran. Masih tetap menggunakan garis bilangan ala lego pipa. Kali ini ditambahin orang-orangan.

“Mas, orangnya di 0, kalau loncat 2, berarti dia ada dimana selanjutnya?”
“2!” Qowiyy menjawab setelah menggerakkan orang-orangannya.
“Kalau loncat 2 terus, bilangan berapa aja yang orang-orangan itu lewati?”
Qowiyy bisa menyebutkannya dengan urut, tanpa harus menggerakkan orang-orangannya. Demikian juga dengan bilangan loncat 3. Kali ini dia dibantu dengan menggerakkan orang-orangannya, lalu menyebutkan hasil bilangannya.



Hihihi, main beginian itu sudah menyita waktu lebih dari 30 menit. Lumayan membuat anak-anak bisa meningkatkan konsentrasinya.

Mau mencobanya juga? Boleh, boleh, boleh...Selamat mencoba!

Senin, 28 Agustus 2017

Perpustakaan Gasibu Bandung, Bersih dan Nyaman

Awalnya ke Gasibu ingin ikutkan Qowiyy kelas public speaking, meski mungkin akan lihat-lihat saja. Sampai Gasibu harus pukul 9.00 jika tidak ingin terlambat. Namun, harapan berbeda dengan kenyataan. Perjalanan dari rumah kontrakan ke Gasibu melewati sebuah acara treatical menyambut hari Kemerdekaan RI ke-72. Ceritanya tentang Bandung Lautan Api. Terdengar deh suara tembak-tembakan dan meriam. Sampai kelihatan di angkasa. Qowiyy sudah ketakutan. Dan tempat treatical itu ada di depan gedung Sate, dekat dengan Gasibu.

“Nggak apa-apa, Mas. Itu pura-pura.”

Saya memeluk Qowiyy. Dia menangis. Maklum, anak saya ini perlu distimulus terus tentang suara-suara keras seperti itu. Bunyi petasan dan kembang api, meski di kejauhan juga takut. Perlahan-perlahan, yakin, akan membuahkan hasil. Dulu, Qowiyy dengar suara sound panggung gembira saja takut, berisik, dan menjauh. Sekarang tidak lagi. Tinggal bunyi petasan atau kembang api yang masih terus latihan.

Muter-muter nyari komunitas public speaking anak kok tidak ketemu-ketemu. Akhirnya kami menyaksikan para angkatan bersenjata sedang berlatih upacara bendera di lapangan Gasibu. Anak-anak tidak terlalu menikmati upacara itu. Akhirnya memilih ke perpustakaan Gasibu.

Perpustakaan Gasibu ini didirikan atas bantuan dari CSR Bank bjb dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan tahun 2016. Merupakan bentuk kepedulian Bank bjb dalam rangka menambah jumlah ruang publik berupa perpustakaan, sehingga minat baca masyarakat bisa meningkat. Begitulah...



Bersih

Kesan pertama, perpustakaan ini bersih. Ada loker untuk menyimpan tas dan tempat mengisi buku tamu. Lumayan ramah pustakawan (bisa disebut gini nggak, ya? Sepertinya...he..) yang menjaga. Lalu, kami disambut beberapa meja lengkap dengan PC. Ada seorang laki-laki memakainya, sedang mengerjakan sesuatu, yuhuuuu. Tahu, deh apa yang dikerjain! Mungkin sedang browsing. Karena PC nya memang nyambung internet. Sampai ke bagian belakang perpustakaan, tampak kebersihan itu terjaga. Jadi, mau baca buku di lantai pun, bersih!



Nyaman

Terbukti dengan tersedianya kursi-kursi untuk duduk. Kaca yang tembus pandang, membuat membaca buku bisa melihat dunia luar. He, saya nyambi lihat paskibraka sedang berlatih mengibarkan bendera. Sampai lupa buku yang dibaca. Hihihi...Tempat duduknya empuk pula. Anak-anak juga betah. Bahkan ada seorang bapak membawa 2 anaknya masuk, langsung duduk rebahan di sofa.






Ya, intinya, kalau mau ke sana lagi, tidak ada salahnya. Cukup recommended sebagai ruang menambah wawasan ilmu. Rak buku tersedia ada 4, sedikit saja ada ruang yang kosong. Selebihnya kualitas buku juga bagus-bagus. Mupeng buku-buku ensiklopedia untuk anak. Huwaaaa, bagus! Suami saja baca buku kuliah yang ditekuni sekarang, ada.




Jadi, boleh deh yang pecinta buku, yang tinggal di Bandung, mencoba ke perpustakaan ini. Mini tapi layak untuk dikunjungi. Kalau anak-anak bosan, ya, tinggal olahraga di lapangan Gasibu nya. Hihihi...

Rabu, 23 Agustus 2017

Kegiatan Multistimulus untuk Anak

Kita sangat paham ya, ketika misalkan anak bermain pasir dan asyik menuangnya dari wadah satu ke wadah lain itu banyak sekali hal yang sedang dipelajarinya secara tidak langsung. Motorik halus, koordinasi mata dan tangan, mengenal konsep isi, stimulus sensori taktil, mengenal konsep matematika sederhana (banyak dan sedikit), dsb.

Kegiatan seperti ini bisa kita rancang. Kalau menurut saya, sebisa mungkin, iya, harus diusahakan seperti itu. Belajar memotong sayur buncis pun juga bisa menjadi kegiatan multistimulus untuk anak.Hihihi, memang untuk anak usia dini, kegiatan anak itu unstruktur, bebas saja, tapi merangcang mah sah-sah saja, asal anak senang, mau, dan yang penting tidak terbebani.

Seperti kegiatan saya dan anak-anak suatu pagi. Belajar dari pengalaman Qowiyy yang masih harus terus dikuatkan sensori vestibularnya (he, anaknya sih sudah 7 tahun lebih), maka saya merancang kegiatan sederhana ini. Yeah, hore!!!! Anak-anak senang. Nasywah (saat kegiatan ini usinya hampir 5 tahun)juga antusias mengikutinya.

Karena Qowiyy sedang asyik belajar membaca, maka saya membuat kartu-kartu bertuliskan kata-kata,yang jika disusun bisa membentuk kalimat. Saya menuliskan 1 kalimat di whiteboard, lantas Qowiyy mencari kata-kata dalam kalimat tersebut di kartu. Setelah ketemu, tugas Qowiyy selanjutnya adalah menjepit kartu kata-kata itu menjadi 1 kalimat seperti yang tertulis di whiteboard di tali rafia. Tali rafianya dipasang memanjang di atas lho, tingginya hampir setinggi lemari besi. Kalau anak berdiri nggak akan nyampai meski sudah jinjit. Maka, saya menyediakan mainan kuda-kudaan yang gampang goyang. Qowiyy naik kuda-kudaan itu, berdiri, dan berusaha menjepit kartu kata.

Kebayang hebohnya? Hihihi,

“Bun, Bun, goyang-goyang nih. Ntar jatuh gimana?” awalnya Qowiyy ketakutan.
“Qowiyy bisa, tenang saja, tidak akan jatuh. Fokus!”



Dan, yes! Berhasil. Nasywah bagaimana? Dia pun sukses. He, kalau Nasywah karena lagi seneng membilang dan mengenal bilangan, jadi kartunya mengurutkan bilangan.




Oh ya, berdiri di atas kuda-kudaan itu, tujuannya agar anak berlatih keseimbangan tubuhnya, lho. Ini penting banget, agar dimanapun berada anak bisa percaya diri membawa dirinya. Pernah melihatkah, anak diajak orang tuanya, mungkin ke arisan atau ke pertemuan lain, bawaannya nyandar atau cari sandaran? Atau mungkin ditinggal dimana, sedang ayah bundanya lihat dari jauh, si anak tolah-toleh? Iya, itu terjadi karena anak kurang bisa mengontrol tubuhnya sendiri. Salah satu penyebabnya adalah lemahnya sensori vestibular.

Qowiyy seperti itu. Agak terlambat saya mengetahuinya. Namun, tidak ada kata terlambat untuk memperbaikinya. Alhamdulillah, kegiatan seperti ini, bisa mempercepat proses. Bisa juga lho berjalan di atas titian, di atas jembatan, atau naik sepeda roda 2.

Terus, menjepit kartu kata. Iya betul, itu bagus untuk menstimulus motorik halus anak. Bisa pakai jepitan baju biasa juga, kok. Warna warni, malah anak akan suka. Nah, kalau dari kartu kata-kata, anak bisa belajar menyusun kalimat yang baik.

“Bisa nggak, Mas, kalimatnya begini:tahu memasak ibu enak?”
“Nggak bisa! Aneh!”

Atau jika mau dikembangkan dengan beberapa kali kegiatan serupa dengan kartu kata yang tulisannya berbeda, anak diajak bereksplorasi mengenal kata kerja dan kata benda. Atau tentang subyek, predikat, obyek. Terserah saja.


Alhasil, kegiatan multistimulus itu asyik, kok, selama dirancang dengan asyik pula. Anak tertantang mengikutinya.

Sabtu, 19 Agustus 2017

Menjahit, Yuk!



Kegiatan suatu pagi bersama anak-anak adalah menjahit baju. Yuhuiiii,

Siapa bilang anak laki-laki tak bisa menjahit. Ehm, terpaksa kegiatan ini saya cobakan ke anak sulung saya, laki-laki. Qowiyy sudah bisa menulis, he, meski nulis angka 9, huruf “g, y, a, w” sering kali masih merasa kesulitan. Lengkungannya itu lho, bikin dia kaku. Hihihi..Ditambah lagi, Qowiyy tidak terlalu menyukai menggunting dan menjahit. Cepat bosan, dan jika ada gagal, dia marah.

“Qowiyy bisa menjahit,” pagi itu saya mengajak dia menjahit. Tentu bersama adiknya, Nasywah. Ternyata dia mau, karena memang menjahit beneran. Ada pola rok dari kain flanel. Karena warnanya menarik, ngejreng, dia mau menjahit. Padahal ya sudah saya siapin pola celana, tapi karena polosan, Qowiyy tak mau mengambilnya.Tukeran deh sama adiknya. Sesekali memang merengek kesusahan, dan saya hanya berkata,”Mas Qowiyy, bisa!”

Sengaja, saya! Agar Qowiyy belajar juga mengatur emosinya. Maka ketika dia menjahit sambil mendendangkan suara, saya biarkan saja. Mungkin itu cara dia mengatur emosinya. Hihihi,
Inilah hasilnya....
Hasil Qowiyy

Hasil Nasywah

Sip lah! Oke deh nurut saya. Selanjutnya, waktunya ngobrol.
“Qowiyy ma Nasywah jahit apa, barusan?” Mereka menyebutkan apa yang dijahitnya.
“Buat apa pakai baju?”
“Biar nggak malu, biar bisa menutupi.”
“O..Trus, kalian pakai baju sekali aja?”
“Ya nggak lah. Kalau dah kotor ya gantilah, Bun!”
“Jadi manfaat baju buat apa?”
“Buat ganti.”
“Wa ja’alnal laila libaasaa,” saya mengucapkan ayat ini, salah satu ayat di QS An Naba. Anak-anak masih hafal, rupanya. Alhamdulillah. Lalu saya membacakan artinya. Malam kok sebagai pakaian? Anak-anak juga heran. Mulai ngobrol lagi deh, kita!

“Malam itu kayak apa, sih?”
“Gelap lah, Bun!”
“Kalau gelap, trus gimana?”
“Ya nggak kelihatan, to, Bun, Bun!”
“Nah tadi kalian pakai baju untuk menutupi kan? Kalau sudah ketutupan, kelihatan nggak?”
“Ya, nggak lah, Bun!”
“Jadi malam itu ibaratnya kayak apa?”
“Kayak baju. Kayak pakaian.” Saya hanya menambahkan bahwa gelapnya malam bisa menutupi semuanya. Namun, jangan disalahgunakan, ya! Pencuri kan suka malam-malam kerjanya, karena gelap nggak kelihatan.

“Trus kalo malam, kalian ngapain?”
“Tidur.”
“Ngapain tidur?”
“Kan ngantuk, Bun!”
“Habis tidur, masih ngantuk, nggak?”
“Nggak.”

Lalu, saya menjelaskan bahwa malam sebagai pakaian itu juga bermakna malam berfungsi untuk mengganti energi lama dengan energi baru. Yang lelah, karena istirahat di malam hari jadi lebih segar.
Ehm, satu ayat saja, jelasin ke anak-anak lumayan ya prosesnya. Tapi, memang, biar anak-anak tak sekedar menghafal. Dari ngobrol seperti ini, dalam benak anak juga tersimpan, bahwa Allah begitu hebat menciptakan malam.

Kok ada malam, kok ada siang? Itu mah, cerita selanjutnya. InshaaAllah.

“Mau jahit lagi?” Nasywah menggelengkan kepala. Qowiyy masih mau lanjut. Dan ini hasilnya. Hihihi, kali ini nggak nyambung An Naba. 
Memanfaatkan perlengkapan dapur untuk olah jahit anak, sebagai stimulus motorik halus.


Tak apalah. Menjahit, yuk!

Jumat, 18 Agustus 2017

Mandiri, Bukan Sekedar Mandi Sendiri!

Aku bisa mandi sendiri


“Yeah, anak Bunda sudah bisa mandi sendiri, ya! Keren, hebat!”

atau dengan girangnya orang tua ketika ditanya sanak saudara, juga teman-temannya tentang bagaimana perkembangan anaknya, lantas menjawab,”Anakku mah luar biasa, sudah bisa pakai baju sendiri yang ada kancingnya.”

Ehm, wajar memang. Orang tua mana yang tak senang melihat anaknya mandiri. Saya pun juga mengharapkan ketiga anak saya jadi anak yang mandiri. Prosesnya itu memang bukan sekali jadi. Perlu konsistensi, keteladanan dari orang tua, harus tahu kemandirian apa yang sesuai dengan usia anak, dsb. Lebih lengkapnya bisa baca tulisan mbak AmmaMendidikAnak Mandiri Sejak Dini”.
Namun, adakalanya, orang tua lupa dengan aspek kemandirian yang satu ini, untuk bisa dilatihkan kepada anak-anaknya. He, saya pun tahu tentang hal juga beberapa bulan yang lalu, dan berusaha mempraktikkannya.

Apakah itu?

Kemandirian berpikir. Jadi segala perbuatan itu memang bermula dari cara berpikir dahulu. Selama ini melatih kemandirian anak, biasanya orang tua langsung melatihkan anak melakukan kemandirian yang diharapkan. Dengan rutinitas perilaku mandiri yang dilakukan, anak akan sadar pola, lalu mandiri. Misalkan, jika waktunya makan, awalnya orang tua menyuguhkan makanan si kecil dan membiarkan si kecil makan sendiri. Orang tua cukup mendampingi. Mau ada tumpah, tidaklah mengapa. Masih berlatih. Lama-lama juga akan pandai makan sendiri tanpa tumpah. Dan selanjutnya, orang tua mengapreasiasi dengan acungan jempol atau bentuk penguatan lain.

Oke, oke. It’s oke. Tapi pernah tidak mengalami, tiba-tiba, bahkan akhirnya berkali-kali, anak sudah 7 tahun minta disuapin? Atau anak usia segitu mendadak minta dimandiin? Anak saya itu. Huwaaaa, sempet syok, saya!!!! Lantas saya ingat materi kulwapp beberapa bulan yang lalu tentang kemandirian berpikir. Ini tidak bisa disepelekan dalam melatih anak menjadi mandiri. Dan ini juga butuh konsistensi.

Rame-rame makan sendiri

Lantas, saya bertanya kepada anak saya,”Kenapa minta dimandiin? Kan dah pinter selama ini mandi sendiri? Kan sudah 7 tahun, saatnya belajar menjaga aurat?”
Lalu dia menjawab,”Bandung, kalau pagi dingin, nggak mau lama-lama di kamar mandi! Kan aku belum bisa mandi cepat.” 

He, anak saya waktu di Depok mandinya sering kali sebelum subuh, atau paling siang jam 5.30. Selain itu kalau dia mandi, memang masih belajar membersihkan badan dengan lebih detail, sehingga butuh waktu lebih. Namun, syukurlah, sudah mau menutup pintu dan keluar kamar mandi dengan menutup aurat.

“O, makanya minta dimandiin?”
Dia mengangguk.
“Tapi, kamu sudah 7 tahun. Selama ini sudah bisa mandi sendiri. Jadi gimana, dong? Kamu nggak malu dimandiin?”
“Iya, aku tetap mandi sendiri, tapi ntar aja agak siangan.”

Baiklah! Jadinya, berubah jadwal. Namun, dia tetap bisa mandi dengan mandiri.

Kemandirian berpikir ini bisa dikatakan bahwa anak harus paham alasan apa yang membuat anak memang harus mandiri melakukan ini dan itu. Cocoknya memang dilatihkan ketika anak sudah bisa diajak berdiskusi, tatkala anak bisa memahami konsep kanan dan kiri dan mulai berkurang sisi egosentrisnya.

Dengan kemandirian berpikir yang bagus, anak akan bisa membuat keputusan yang tepat. Ketika dia punya uang angpau lebaran yang banyak, sedang dia akan masuk sekolah juga di tahun ajaran baru, maka anak akan memilih untuk membelikan tas daripada untuk jajan.
Selepas makan? Iya, anak pun akan membawa piringnya sendiri ke tempat cucian, lalu mencucinya. Karena anak sadar penuh ada tanggung jawab di sana.

Asyik, aku bisa bertanggung jawab mencuci piring sendiri!!!


Bahkan, untuk sekedar memakai baju pun, anak akan tahu baju mana yang akan dipakai ketika akan pergi ke pesta atau santai di rumah saja. Lantas dia memakainya sendiri.

Bagaimana Cara Menumbuhkan Kemandirian Berpikir?

Ya, sering-sering ngobrol bareng anak. Sering-sering menyentuh “rasa” pada diri anak ketika masih usia dini. Sering-sering juga bertanya “mengapa” atau “kok”.

“Mbak, kira-kira adik bayi dimandiin pantes nggak? Kalau dah segedhe kamu, gimana?”
“Nak, ini ada celengan, dan di depan ada warung yang jual jajan, kira-kira gimana nih uang lebaranmu?”
“Sayangku, mengapa kamu harus makan sendiri? Jika bunda lagi repot urus adik bayi, sedang kamu lapar, bagaimana?”
“Mas, kok ada orang belanja di supermarket itu, trolinya ada yang penuh, namun juga ada yang nggak penuh? Kalau kamu yang berbelanja, gimana kamu ngisi trolinya?”

Dan, untuk awalannya biarkan anak melakukan sendiri apa yang sudah dibisa. Jika kurang pas, biarkan dulu. Cukup beri teladan dan beri penjelasan. Tak perlu menyalahkan. Misalkan, ketika anak pakai baju atasan dan bawahan tak serasi warnanya karena usianya masih 2 tahun dan lagi senang-senangnya memakai baju sendiri. Maka, biarkan saja, sambil tunjukkan ketika ibunya dandan berkata,”Kalau serasi itu enak dipandang. Kayak gini.” Jangan lupa, tetap tersenyum. Hihihi...


Kemandirian berperilaku itu penting. Kemandirian berpikir juga tak bisa dikesampingkan. Mandiri, biar tak sekedar mandi sendiri, namun anak paham betul mengapa dia harus mandi sendiri. Pun kemandirian lainnya.

Selasa, 08 Agustus 2017

Cara Sederhana Mengajak Anak Memaknai Surat An Naba



Ya, ini sih belum semua ayat dimaknai, namun hanya pada beberapa ayat yang sekiranya anak-anak menurut feeling saya, akan mudah diajak diskusi. Dan lebih asyik jika sebelumnya, untuk ayat-ayat yang akan dibahas ini, anak sudah menghafalnya dengan lancar.

Qowiyy kebetulan anaknya visual. Kalau Nasywah sebenarnya dominan kinestetik, namun alhamdulillah kali ini saya ajak menghadap whiteboard, tak menuai protes darinya. Mungkin karena judul permainannya “tebak gambar” kali ya, lantas Nasywah ikut antusias.

Permainan seperti ini juga melatih saya untuk bisa menggambar dengan cukup jelas di hadapan anak-anak. Syukurlah, berhasil. Yeaaaaa..

Ini hasil gambar saya untuk belajar bersama anak-anak..

Nah, agar tidak berebutan, untuk menebak gambarnya saya buat giliran. Namun, terlihat 3 kali Qowiyy nyerobot giliran Nasywah. Ini kesempatan menjelaskan tentang karakter antri dan sabar. Selanjutnya proses berjalan lancar.

“Gambar apa ini?” saya menggambar orang tidur.
“Orang tidur!!!” jawab Qowiyy.
“Ngapain orang tidur?”
“Ya ngantuk lah. Capek!”
Lalu saya murojaah ayat di QS An Naba tentang Allah menjadikan tidur sebagai istirahat.

“Gambar apa ini?” tanya saya ketika menggambar awan, hujan, dan pohon serta biji-bijian.
Nasywah bisa menjawabnya dengan gampang. Lalu kami murojaah bareng tentang ayat tersebut, lantas saya bertanya,”Jadi bagaimana biji-bijian bisa tumbuh?”
“Karena ada air hujan. Air hujannya dari awan. Awannya Allah yang ciptakan.”
Good! Excellent!

“Nah, ini gambar apa?”
“Gunung!”
“Waljibaala autaadaa,” kami murojaah bersama.
“Jadi gunung itu sebagai pasak atau paku. Jika pasak/paku ini dicabut, apa yang terjadi pada bumi?”
“Rusak lah. Kiamat!” jawab Nasywah.
Saat ini lah tepat untuk menjelaskan dahsyatnya hari kiamat. Rumah hancur, mobil rusak, semuanya terangkat dan berantakan, ayah tak ingat anak, ibu lupa anak, semuanya terbang. Sekalian nyambung tentang malaikat yang meniup sangsakala saat itu (gambar terompet). Dan orang tak beriman sangat ketakutan, karena nasib mereka ujung-ujungnya adalah di neraka (gambar api).
“Pilih jadi orang beriman atau tidak beriman?”
“Orang beriman.”
“Orang beriman itu gimana?”
“Sholat, ngaji, berbagi, sayang ayah bunda, cinta Allah, cinta Rasulullah.”

Begitulah. He, tentang matahari dan malam, inshaaAllah di tulisan berikutnya ya. Oh ya, tulisan di samping gambar di whiteboard itu, sengaja saya tulis. Nah, tugas Qowiyy adalah membacanya. Qowiyy baru belajar baca. Jadi sukanya sedikit-sedikit begitu. Masih kata yang dibaca. Tapi dengan frekuensi yang sering, sejauh ini sudah banyak peningkatan untuk proses membacanya.


Memaknai QS An Naba bagi anak tidaklah sulit. Sesuaikan dengan bahasa mereka, maka anak akan memahaminya. Dan berharap Allah senantiasa menancapkan iman di dada mereka.

Kamis, 03 Agustus 2017

Survey Itu Sesuatu



Masih tentang kepindahan saya sekeluarga dari Depok ke Bandung. Yang namanya pindahan, tentu ada rumah berikutnya yang akan dijadikan tempat tinggal. Iya, sadar dengan hal itu, suami pun beberapa kali ke Bandung mencari rumah yang pas untuk kita kontrak di Bandung. Entah sudah berapa rumah dilihat. Sebelum lebaran saja, sudah 2 kali ke Bandung. Setelah lebaran, ah, saya lupa berapa kali. Yang saya ingat, pernah hari Ahad saya pulang dari sebuah acara dan sampai rumah pukul 10.00, tetiba suami langsung ijin pamit mau ke Bandung, janjian lihat rumah.

Saya langsung kaget, euyyyy. Rencana pingin rebahan sebentar gitu, eh ternyata harus urus 3 bocah lagi. Dan saya berhasil migrain. Maklum, sudah kaget, Depok panas banget. Tapi, karena ingat survey itu penting, ya sudahlah.

Hingga akhirnya waktu sudah mepet dengan tanggal kepindahan. Saatnya memutuskan. Ya, saya juga kasihan, suami harus mondar-mandir Depok Bandung demi rumah kontrakan yang pas. Bagaimanapun, kesehatan fisik juga masih diperlukan ketika hari H pindahan dan sesudahnya. Pertimbangan kualitas air, kondisi lingkungan, harga, dsb. Jatuhlah pilihan pada rumah yang sekarang ditempati.

Tapi oh tapi...
Survey itu memang harus detail kali ya..Saya sih bersyukur saja tinggal di rumah kontrakan yang sekarang di Bandung, tapi....hihihi, bukan maksud pula nyalahin suami, ya! He, iya, survey itu harus detail, biar tak ada yang salah bawa dari rumah sebelumnya.

Contohnya nih ya. Awalnya saya pingin tetap bawa freezer agar bisa tetap jualan frozen food di Bandung, tapi akhirnya dijual karena rumah kontrakan nggak seluas rumah Depok. Mengingat masih ada almari dapur yang besar dan mesin cuci. Setelah dipertimbangkan, akhirnya freezer dijual. Alhamdulillah laku.

Namun, alamaaakkkk, ketika mau pindahan, si mas go box ternyata nggak mau angkut lemari dapur. Takut pecah. Perasaan dulu pas beli, juga dianter sama tokonya pakai mobil pick up baik-baik saja. Tapi, mungkin si mas go box punya perhitungan lain, kali, makanya akhirnya lemari dapur akhirnya kami tinggal. Dan syukurlah ada yang mau beli. Uangnya bisa untuk kebutuhan lain. Hihihi, suer atuh, pindahan juga butuh banyak duit.Tabung gas saja saya jual.

Jadinya, di Bandung, perlengkapan dapur saya tidak saya keluarkan semua. Dan yang sudah kebawa namun tak terpakai juga ada, lho. Mesin cuci. Nganggur tidak mencuci sampai detik saat ini. Kran di kamar mandi hanya satu dan itu untuk mandi. Yah, daripada mubadzir, akhirnya mesin cuci kita keluarkan dari kamar mandi dan dipakai sebagai tempat baju kotor saja. Untungnya, suami rela kebagian tugas mencuci pakai tangan. Hihihi...Eh, tapi kalau teman-teman ada ide mengakali mesin cuci biar bisa dipakai, boleh lho..siapa tahu bisa. Saya tunggu, ya...

Benar, kan, survey itu perlu. Lebih jeli lagi kalau bisa pas survey. Mungkin perlu juga list apa saja yang disurvey. Trus ditimbang-timbang pula, jika tak ada yang ideal (dan memang susah cari yang ideal), minimal kebayang solusinya.


Namun, sudahlah! Tetap happy kok saya. Karena tinggal bersama suami dan anak-anak tercinta. 

Bilangan Bertitik


Kegiatan Nasywah di Senin pagi, 31 Juli 2017 adalah sederhana sekali. Saya tuliskan bilangan 1 sd 9, lantas tugas Nasywah adalah memberi gambar titik menggunakan boardmarker hitam dan biru sebanyak bilangan tersebut. Misal 1, maka titiknya 1. Misalkan 9, maka titiknya 9.

Yeahhhhh, Nasywah bisa melakukannya dengan antusias dan benar hasilnya.



Trus, selesai begitu saja? Iya, selesai. Dia lanjut ke kegiatan berikutnya. Tetapi, ketika menjelang tidur malam, saya ngobrol sama Nasywah di kasur.

“Mbak, tadi bikin bilangan dikasih titik-titik, ya?” Dia mengangguk.
“Gambar titiknya gimana? Yang di bilangan 1 sama 9?”
“Yang 9 titiknya banyak, yang 1 titiknya cuma 1.”
“Jadi yang 1 sedikit gitu titiknya?” Dia mengangguk lagi.
 “Lebih kelihatan bersih yang mana, 1 atau 9?”
“1 lah. 9 kelihatan nggak bersih.”
“Jika titik-titik itu adalah dosa, maka kamu ingin jadi bilangan 1 atau 9?”
“1.”

Yes, Nasywah berhasil menangkap maksud saya. Selanjutnya, saya hanya sedikit menjelaskan bahwa orang yang beriman adalah orang yang bersih, berusaha agar hidupnya tak banyak dosa. Meski demikian, jika terlanjur berbuat dosa, orang beriman bersegera menuju ampunan Allah. Dan Allah mencintai hamba-Nya yang suka bertaubat.

Iya, menanamkan tauhid serta kecintaan kepada Allah itu, memang harus banyak cara. Bagi saya sendiri, sebuah pengalaman yang dialami anak jangan sampai terlewati dari penggalian dan diskusi bahwa ada andil Allah di sana. Termasuk ketika anak belajar matematika.  

Bilangan bertitik. Simple, tapi penuh makna. Dan hati merasa lega sambil berharap Allah tancapkan iman di dada. Bagi saya sendiri, terlebih juga bagi Nasywah, anak tengah saya.

Minggu, 30 Juli 2017

Meski Judulnya Saja, Tak Mengapa



Sungguh, perjuangan sangat dibutuhkan, ya, agar anak punya minat baca dan bisa baca. Banyak anak bisa baca dengan cepat ketika minat membaca sudah tumbuh. Dari kecil terbiasa dikelilingi dan disajikan buku, dibacakan buku, membuka-buka halaman buku, hingga akhirnya tumbuh motivasi belajar membaca buku. Dan akhirnya berhasil.

Namun, bisa jadi, meski sudah berusia 7 tahun lebih, minat bacanya tinggi namun motivasi bisa membacanya belum setinggi minatnya. Seperti anak saya. Kalau tidak tertarik untuk membacanya, ya dia akan lebih senang untuk dibacakan. He, emaknya ini, lho pernah galau. Namun, nggak boleh lama-lama ya galaunya. Jadi tantangan dan petualangan baru. Terlebih sekarang di Bandung, akhirnya sulung saya ini akhirnya homeschooling lagi. Yuhuiiii, petualangan dimulai.

Selasa, 25 Juli 2017 mulailah petualangan baru. Target rencana belajar buat Qowiyy hari itu sebenarnya bukan belajar membaca, tapi saya ingin melihat bagaimana respon Qowiyy saya membacakan buku untuknya. Gegara mau pindahan, buku-buku sudah terpacking sejak awal sebelum lebaran, he, jadi ada jeda lama anak-anak tidak berinteraksi dengan buku. Eh, rupanya dia tertarik meski sambil main lego kesukaannya. Tibalah di tema “Kalajengking”.

“Apa ini judulnya, Mas?”
Qowiyy membaca pelan-pelan. Agak kesulitan di “jeng” dan “king”. Saya pun membantunya. Juga untuk beberapa suku kata lain seperti “nye” dan “ngat”. Iya, dan Qowiyy hanya mau membaca judulnya saja. Isinya saya kembali yang bacakan, namun di tengah-tengah kembali saya minta dia baca beberapa kata. Seperti “sahara” dan “afrika”. Syukurlah, tanpa rengekan. Bahkan pas ada judul lain dengan tema kudanil, dia pun mau membaca meski lagi-lagi hanya judulnya.

Oke, cukup segini saja bacanya. Yang penting ketika Qowiyy saya tanya isi cerita kalajengking dan kudani itu bisa. Faktanya, dia sangat hafal. Sambil memainkan media bendera dan peta, Qowiyy pu jadi tahu dimana jenis kalajengking yang berbisa sehingga mampu menyengat.


Saya bahagia karena proses membacanya tanpa ada rengekan Qowiyy,”Nggak mau baca ah!” kali ini. Moga besok-besok begini. Hihihi...Meski masih judulnya saja. Tak mengapa.

Mental Oke Ketika Pindah Rumah

Ya,keputusan ini akhirnya diambil! Saya sekeluarga harus pindah rumah. Pasalnya, suami harus menjalankan tugas belajar S2 ke kota lain. Dekat, sih, sebenarnya Depok ke Bandung, tapi pindahan rumah itu butuh perencanaan matang. Walah, kan bisa LDR an? Depok Bandung hanya 3-4 jam saja. Bisa sepekan sekali ketemu. Awalnya bisik-bisik ini mengusik dan sempat saya mengambil keputusan bahwa saya siap LDR dengan tetap mendidik 3 anak. Lagipula si sulung juga sudah mendaftar sekolah tahfidz di Depok.

Lalu, bisikan-bisikan lain datang.

“Saya nggak pernah LDR, Bun, sama suami ketika anak-anak masih kecil. Nilai-nilai dari ayahnya kalau sudah didapat dari mereka kecil, akan diingat sampai mereka besar. Jadi, ketika saya LDR sekarang dengan kondisi anak-anak sudah dewasa, saya tenang. Mereka melakukan pesan nilai ayahnya dari kecil.” (bisikan dari Bu S, sebut saja begitu)
“Merawat 2 dapur itu lebih berat daripada 1 dapur. Kumpul lebih enak.” (bisikan dari Mbak N, sebut saja begini)
“Ikut aja, Mbak, kasihan anak-anak. Masalah sekolah mah gampang! Anak-anak masih butuh ayahnya.” (bisikan dari Dik N, sebut saja demikian)
“Iya, Mbak, jangan sampai skip kayak anakku gegara dulu waktu kecil sering nggak ketemu ayahnya.” (bisikan dari Mbak I, sebut saja kayak gitu)

Dan, taraaaaaa!!! Yes,akhirnya kami pun memutuskan pindah sama-sama. Boyongan euyyyy...Nah, apa saja yang harus disiapkan ketika pindahan? Ini dia...

Mental. Terutama terkait anak-anak. Siapkah mereka tak berjumpa lagi dengan teman-temannya untuk masa selama kami di tempat baru? Siapkah mereka dengan kondisi cuaca yang mungkin berbeda dengan Depok? Siap pula dengan kondisi lainnya pula. Dan ternyata, Bandung cuaca panas sedang hawa dingin, euyyy. Depok masih terdengar kabar hujan terus setiap hari. Kulit kami di Bandung kering dan bersisik. Keluar rumah jadi malas. Saya ini, mah. Kalau anak-anak, alhamdulillah masih seneng main di luar rumah sama seperti biasanya di Depok. Terus, ternyata suami dapat kontrakannya memang mewah alias mepet sawah. Lumayan jauh ke jalan raya. Kalau di Depok cari makan atau kue keluar rumah, bisa cepat. Di sini, hihihihi, lumayan lah membuat anak-anak belajar sabar dan menahan diri.

Kapan menyiapkan mental anak-anak? Ya sejak keputusan ikut pindah dibuat. Crita kalau nanti nggak ada AC di rumah Bandung, kalau mungkin nasi uduk jarang yang jual, dsb. Tapi, imbang kok dengan crita enaknya. Bahwa di Bandung banyak tempat-tempat keren, dsb. Syukurlah, soal AC tak jadi masalah. Pun nasi uduk. Namun, Sabtu dan Ahad anak-anak meminta pergi jalan-jalan keliling Bandung. Baiklah!

Eh, ternyata mental saya sebagai istri dan ibu juga harus dipersiapkan lho. Kan nggak lucu, anaknya oke, ibunya nggak begitu. Soalnya ingat banget ketika dulu suami ketrima PNS. Bayangan saya tuh takut kalau ditempatkan di pedalaman luar Jawa. Ha ha ha. Gelisah bawaannya. Dan saya nggak ingin hal ini terjadi lagi. Dan memang beda kok ya. Bandung mah bukan pedalaman. Tapi oh tapi...Saya kaget dan sempet syok lho. Dapur masih kebuka, angin bertiup kencang. Alhasil setiap hari saya harus menutup aurat di dapur dan menambah stok sabar. He, masak sayur bayam sedikit saja bisa sampai 30 menit lho. Anginnya tuh mengobarkan api kompor nggak fokus ke panci sayur. He..kalau dah nyerah, suami yang rela nutupi pakai kardus besar. Matang, deh! Jadinya saya nya juga jadi menahan diri untuk tidak sering-sering bikin teh panas atau minuman coklat panas.


Begitulah, soal mental. Saya nggak cerita bagaimana kondisi mental suami saya ya. Laki-laki ternyata lebih santai dengan kondisi baru seperti apapun. Apa hanya suami saya saja, ya? Hihihi...